top of page

Maanggau

  • Dec 11, 2024
  • 9 min read

Updated: Mar 14

Penulis: Meriani

Tuerkayana magnum (Anggau)
Tuerkayana magnum (Anggau)

Anggau ditangkap dengan cara memasang jebakan dari kelapa parut yang diletakan di sekitaran lubang sarang anggau. Setelah beberapa saat, anggau akan keluar dari lubangnya, inilah kesempatan masyarakat untuk menangkapan anggau tersebut. Pada ‘musim anggau’, masyarakat tidak perlu menahan perangkap, cukup dicari di pinggir pantai saja. Jadi di Mapinang anggau bisa di nikmati kapan saja meski jumlahnya tidak sebanyak pada musim anggau. Masyarakat dari Dusun lain juga bisa menikmati anggau selain musim anggau dengan cara membelinya ke Mapinang.


Dua hari di Guluguluk kami pergi membeli anggau ke Mapinang. Perjalanan menuju Mapinang menempuh waktu kurang lebih dua jam. Selama perjalanan kami menempuh jalan yang berlubang dan licin. Sesampai disana kami bertemu dengan banyak orang yang sedang bermain voli. Kami bertanya ke salah satu masyarakat siapa yang menjual anggau. Ternyata disana banyak yang menjual anggau. Anggau dijual berdasarkan ukuran, ukuran kecil harganya seribu rupiah per ekor dan anggau yang berukuran besar harga dua ribu rupiah per ekornya. Biasanya anggau di masukan ke dalam peti berukuran besar dan diberi makan sagu, daun pandan, dan parutan kelapa.


Kesalahan kami waktu membeli anggau tersebut adalah kami tidak memberitahu masyarakat jumlah anggau yang akan kami beli, sehingga banyak masyarakat yang menawarkan anggau kepada kami. Tapi kami tidak membeli semuanya karna terlalu banyak. Kami membeli anggau sekitar 135 ekor, dengan total harga Rp.350.000. Anggau dibawa menggunakan karung dan di ikat bagian atasnya agar tidak keluar. Sesampai di rumah, kami pisahkan antara yang masih hidup dan yang sudah mati. Anggau yang hidup kami pindahkan kedalam peti terlebih dahulu dan diberi makan kelapa parut. Setelah itu kami ambil sekitar 30 ekor untuk kami masak. Sisanya kami simpan untuk besok, ada juga yang di berikan ke tetangga.


Makanan olahan Anggau: Gulai Anggau; Sup Anggau; Anggau Saos Padang.
Makanan olahan Anggau: Gulai Anggau; Sup Anggau; Anggau Saos Padang.

Anggau dimatikan dengan cara di pukul bagian cangkang atasnya sampai tidak bergerak lagi. Setelah itu kami mulai membersihkan anggau mulai dari membuka cangkangnya, memisahkan kedua bagian capitnya, dan membuang kotoranya. Setelah itu semua bagian anggau di sikat bersih sehingga tidak ada lagi lumut atau kotoran yang menempel. Kemuadian di bilas dengan air berulang kali.


Setelah semuanya bersih, kami mulai mengolahnya menjadi sup anggau dengan bahan seadanya. Setelah itu baru kami nikmati bersama-sama. Di Pagai Utara biasanya anggau diolah menjadi Sup atau direbus saja. Tapi disini kami membuat Kepiting saos padang dan gulai anggau. Kepiting saos padang tersebut juga kami berikan ke masyarakat yang datang ke rumah. Bagi mereka rasanya enak dan gurih. Kepiting saos padang tersebut merupakan rasa baru bagi mereka karena mereka belum pernah mengolah itu sebelumnya.


Tradisi Maanggau

Pada akhir bulan Juli seminggu sebelum kami kembali ke Padang adalah musim anggau. Musim anggau di sebut masyarakat setempat dengan Maanggau. Maanggau adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Mentawai salah satunya Pagai Utara. Bulan Juli- September anggau bisa dicari di berbagai Dusun yaitu dari ujung Pasapuat, Pianairuk, Mabulau Bugeii dan Mapinang. Musim anggau adalah sesuatu yang dinanti-nanti oleh masyarakat, mereka sangat antusias dengan musim anggau tersebut. Mencari anggau juga merupakan momen yang paling berharga bagi saya dan teman-teman saya.


Waktu yang kami tunggu-tunggu datang juga, kami mencari anggau bersama masyarakat Guluguluk. Tanggal 21 Juli pukul 19.00 WIB, kami berangkat menggunakan motor sebanyak sembilan orang yaitu Pak Adrianus (mitra kami di Guluguluk), Rival (anak Pak Adrianus), dan beberapa warga lokal. Seperti biasa kami selalu membawa bekal yaitu pisang krispi. Kami berangkat dengan senang hati dan membawa perlengkapan masing-masing seperti headlamp, karung, oorek, sarung tangan dan laplaplap. Laplaplap dan sarung tangan berguna untuk menangkap anggau agar tidak dicapit. Biasanya masyarakat Pagai Utara mencari anggau mengunakan oorek (keranjang anyaman dari rotan) didalamnya dilapisi seng agar kepiting tidak keluar. Oorek ini dijual dengan harga Rp 150.000 per unit dan digunakan dengan cara disandang di punggung seperti tas.


Perjalan mencari anggau memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit sampai di Pinairuk. Disepanjang perjalanan menuju lokasi, Rival melihat anggau di pinggir jalan lalu turun dari motor untuk mengambilnya. Hal ini dilakukan berulang kali sampai di Pinairuk. Sesampainya disana, sudah banyak masyarakat dari dusun lain yang duluan mencari anggau. Awalnya kami binggung bagaimana cara mencari anggau tersebut. Namun setelahnya kami mulai terbiasa karena melihat Pak Adrianus dan Rival.


Setelahnya, kami berpisah dari bapak dan Rival. Yeeey! kami melihat anggau pertama di pinggir pantai dibantu penerangan headlamp dan cahaya alami dari bulan purnama. Kami sangat antusias sehingga kami berlari mengejarnya, karena kami terlalu ribut dan saling rebutan anggau tesebut lari dan kami kejar lagi. Hahaha, mau lari kemana kamu anggau! Percayalah kami akan mendapatkanmu kembali dan benar kami mendapatkanya. Dengan sepatu boot andalan, Icuy langsung menginjak anggau tersebut tapi tidak dengan kekerasan ya. Dengan lincah dan sangat tergesa-gesa ina kami, Desi, menangkap anggau tersebut, lalu saya menampungnya dengan karung. Selamat anggau pertama kami masuk karung! kami sangat senang sehingga berulang kali kami mengukapkan kata “serunya”. Kami kembali menyusuri pinggir pantai yang sedang pasang surut, karena sebelumya kami melihat mamak Dio mendapatkan anggau disana. Beberapa menit kemudian kami mendapatkannya lagi, kami bersorak gembira untuk yang kesekian kalinya. Hal yang sama kami lakukan berulang kali dan itu membuat kami sangat senang dan bersyukur bisa merasakan kebiasaan masyarakat disini. Tanpa kami sadari sudah hampir dua jam kami mancari anggau, karena waktu berlalu begitu cepat diiringan tawa gembira kami yang selalu bilang “yuk cari dimana lagi”.


Setelah semua anggau yang berada di pinggir pantai kami habiskan- anggap saja begitu, kami pindah lokasi ke pinggir jalan. Taraaaa… kami mendapatkannya lagi dan lagi, kali ini kami sudah ahli dalam menangkp anggau tanpa harus kena capit. Kami menyusuri jalan sambil membuka semak-semak, mana tau disana tempat anggau bersembunyi. Kami melihat banyak sekali sarang lubang anggau. Tapi kami tidak bisa mengambilnya karena lubang tersebut sangat dalam dan ada anggau yang mengangkat capitnya menantang kami. Disepanjang menyusuri jalan kami selalu bercanda ria. Pada waktu itu kami berpisah dengan Da Rian karena masih mencari anggau di pinggir pantai.


Pada satu momen saya melihat dua ekor anggau di dalam lubang yang tidak terlalu dalam, mungkin mereka lagi pacaran atau ya begitulah, saya memberi tahu Icuy dan Desi. Kami bertiga berlari ke arah lubang tersebut dengan tertawa riang sambil berkata “serunya” kata-kata ini berulag kali kami ucapakan. Kami menangkap anggau betina tapi anggau jantan tidak kami dapatkan, karena dia berpegangan pada akar pohon yang ada dalam lubang. Sekitar 15 menit kami masih berusaha menangkap anggau jantan tersebut, namun tetap saja tidak bisa ditangkap. Sudah berbagai cara kami lakukan seperti menahan kedua capitnya dengan kayu dan Icuy mengangkat badannya namun tidak membuahkan hasil juga. Sangat disayangkan karena anggau tersebut sangat besar. Setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke pantai lagi. Baru saja kami sampai di pinggir pantai kami mendapatkan anggau lagi. Kami bertemu banyak orang disana yang belum kami kenal dan kami mengobrol sebentar.


Kali ini pantai sudah dipenuhi banyak orang, cahaya headlamp dimana-mana dan ini merupakan hal yang sangat luar biasa bagi kami. Bagi mereka ini sudah menjadi kebiasaan budaya. Kami lanjutkan lagi mencari anggau di pantai dan kami mendapatkan sekitar tiga ekor anggau yang berada dalam air. Kata masyarakat, anggau tersebut pergi minum atau bertelur ke dalam air. Kami sangat senang mendapatkan anggau tersebut, tapi agak susah mengambilnya karena banyak karang. Seperti biasa dengan sepatu andalan, saya menginjak anggau tersebut tapi kali ini capit kananya putus karena terlalu kuat menginjaknya, kami sangat sedih tapi kami juga senang. Icuy memasukanya kedalam karung dan karung kami sudah dipenuhi oleh anggau. Setelah kami lihat-lihat, tenyata anggau yang kami dapat dalam air tersebut adalah anggau butui atau anggau yang sedang hamil. Sehingga kami dilema untuk mengambilnya. Kami sempat berfikir untuk mengembalikannya lagi ke dalam air. Tapi, jika kami kembalikan lagi kedalam air maka akan diambil oleh orang lain terutama Mamak Dio. Kami tidak mau itu terjadi, kami putuskan untuk tetap mengambilnya saja, kalau bukan kita yang ambil pasti diambil orang lain, begitulah pemikiran kami bertiga ketika dapat anggau butui.


Tanpa terasa jam sudah larut dan kami mendenggar sayup-sayup orang memanggil, dan benar yang memanggil kami adalah Pak Adrianus. Beliau suruh kami istrirahat untuk menikmati bekal yang kami bawa. Kami istirahat dipinggir jalan ditepi pantai sambil bercanda ria. Setelah itu kami lanjut mencari anggau lagi sampai pukul 23.50. Pada pukul 23.55 kami mengumpulkan anggau yang kami dapat dengan bapak dan Rival. Alhamdulillah kami dapat cukup banyak anggau sekitar satu karung. Kami langsung pulang.


Dalam perjalanan pulang kami kembali melihat anggau dijalan. Kami berhenti sebentar untuk mengambilnya dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan pulang kami meilhat banyak orang mencari anggau juga. Anehnya pada saat mencari anggau tersebut kami tidak mengantuk sama sekali mungkin karena kami terlalu senang dan bersemangat sehingga kami tidak merasa lelah sama sekali. Sampai di rumah kami bilang ke Pak Adrianus agar besok bisa pergi lagi, bapak mengiyakan permintaan kami.


Anggau yang kami cari malam itu sebagian kami masak menjadi sup anggau sebagian lagi kami simpan untuk dibawa ke Padang. Biasanya anggau yang di cari saat musim anggau ini tidak di jual oleh masyarakat. Hasil tangkapnya dibagi ke keluarga dan tetangga. Tapi di beberapa tempat seperti di Mapinang, anggau diperjual-belikan. Anggau dijual di rumah masing saja, tidak ada distributor. Anggau tidak dijual belikan keluar pulau karena rentan mati.


Keesokan harinya kami pergi lagi, hari ini kami berencana berangkat agak cepat tapi karena beberapa hal kami tetap pergi pukul 19:00. Satu jam sebelum itu Rival dan Buaik (nenek) sudah berangkat duluan, namun malangnya motor mereka tiba-tiba mati dijalan, di Dusun Pasarpuat. Di Pasarpuat kami melihat Rival dan Buaik berada di bengkel sedang memperbaiki motor. Sudah sekitar 15 menit motor diperbaiki, namun tidak kunjung baik sehingga Rival harus menjemput orang bengkel dari Guluguluk yang biasa memperbaiki motor tersebut. Sembari menunggu Rival kembali bapak dan Buaik mencoba memperbaikinya dan berhasil. Rival sudah terlanjur kembali ke Guluguluk, sehingga bapak harus menyusul Rival. Hanya itu satu-satunya cara karena disini tidak ada jaringan telefon untuk menghubungi Rival.


Pukul 21:11 WIB kami melanjutkan perjalanan, dalam perjalanan kami banyak berpapasan dengan masyarakat membawa banyak anggau menggunakan oorek. Sesampai di Mabulau bugeii sudah ramai disana, sangat disayangkan kami tidak mendapatkan anggau lagi karena sudah kehabisan. Kali ini benar-benar ramai sangat berbeda dengan kemarin. Sudah seperti pasar malam, mungkin terdengar sedikit berlebihan tapi ini adanya. Hal ini merupakan bentuk antusias dari masyarakat menyambut musim anggau. Jalan sudah di penuhi orang dan motor, begitu juga ditepi pantai cahaya lampu dimana-mana.

Karena kami tidak mendapatkan anggau disini, kami pindah lokasi ke Mapinang, dusun paling ujung di Pagai Utara, tapi disini lebih ramai lagi. Kami agak sedikit kecewa hari ini dan semangat sudah mulai berkurang. Banyak orang yang kami temui malam ini, dari anak-anak sampai orang tua. Ternyata tidak hanya kami yang menikmati momen tersebut tapi masyarakat disana juga menantikan momen ini. Karena Maanggau ini dilakukan hanya sekali dalam setahun.


Walaupun semangat kami sudah berkurang tapi niat kami tidak surut, kami tetap mencarinya di pinggir jalan dan tepi pantai. Kami hanya mendapatkan 3 ekor saja. Pukul 00.15 kami istirahat sebentar menunggu orang-orang pulang dulu, siapa tahu anggaunya keluar lagi. Kata bapak biasa sekitar pukul 01:00 atau pukul 02:00 anggau pergi minum ke pantai. Banyak masyarakat yang juga ikut istirahat dengan kami, namun tidak dapatkan. Kami sangat senang melihat orang yang lebih tua dari kami yaitu Buaik bersemangat mencari anggau dengan menggali lubang anggau sampai sedalam satu meteran. Setelah pukul 02.00 kami bersemagat kembali untuk mencari anggau berharap kami mendapatkannya, sayang kami mendapatkan sebanyak yang kemarin. Pukul 03.00 kami kembali kerumah masing-masing.


Anggau sebagai komoditas yang menjanjikan

Anggau yang kami cari sebelumnya masih hidup dan sehat, kami berencana membawa anggau tersebut ke Padang. Karena anggau yang tersisa kemaren tidak cukup, jadi kami pergi membeli anggau tambahan ke Mapinang sebanyak 175 ekor lagi. Sebelumnya kami sudah memesan long dari salah satu masyarakat disana. Long adalah keranjang terbuat dari rotan yang dianyam berbentuk sedikit membulat dan memiliki penutup. Penjepit untuk memindahkan anggau disebut dengan laplaplap yang terbuat dari bambu. Dalam keranjang tersebut kami beri potongan sagu dan daun pandan untuk makannya.

Ini hari terakhir kami di Guluguluk. Kami berangkat ke Sikakap menggunakan mobil pick up. Perjalanan ke Sikakap penuh dengan perjuangan karena anggau tersebut tidak boleh kena panas. Jika kena panas, mereka akan mati. Jadi kami mencari cara untuk melindunginya dari panas dengan menutup keranjangnya dengan daun kelapa yang cukup banyak. Saat sampai penginapan di Sikaka[, ada beberapa anggau yang mati. Sisanya kami pindahkan kedalam box container agar lebih leluasa dan diberi sedikit air. Satu hari setelahnya anggau tersebut kami bawa sampai ke Padang menggunakan kapal Gambolo. Anggau tersebut selamat sampai di Padang, kami makan bersama di Padang. Anggau juga kami bawa sampai ke Solok dan Pasaman. Ke Pasaman anggau tersebut saya bawa menggunakan motor kurang lebih 4 jam dan hidup selama dua hari sebelumnya akhirnya dimasak. Ternyata anggau tersebut bisa bertahan hidup cukup lama dalam berbagai kondisi. tergantung bagaimana tempat dan luas tempatnya. Tapi tidak bisa dengan cuaca yang terlalu panas.

 

Begitulah pengalaman kami di Pagai Utara perihal mencari anggau. Maanggau membuat kami sangat senang dan tidak ingin pulang. Maanggau merupakan pangalaman yang sangat berharga bagi saya. Budaya mencari anggau masih terjaga sampai saat ini dan anggau yang mereka dapatkan dibagi ke sanak saudara maupun tetangga mereka. Maanggau dapat meningkatakan kerjasama dan silaturahmi bagi mereka. Karena yang ikut mencari anggau ini tidak hanya orang dusun Guluguluk, Mapinang, Mabulau bugeii saja tapi juga dari Mangganjo, Pasapuat, dan Saumanganya. Semoga lain waktu bisa mencari anggau lagi di sini, maupun di Mentawai bagian lainnya. Sekianlah cerita saya tentang anggau semoga bisa menangkap dan makan anggau lagi di lain waktu. Terima kasih Guluguluk untuk kesan terindahnya dan sampai jumpa kembali.

Comments


bottom of page