Primata Endemik Mentawai: Di Tepi Jurang Hutan yang Jarang
- Feb 13
- 8 min read
Updated: Mar 14
Penulis: Addy Mukhziae

Di hutan Kepulauan Mentawai yang diselimuti kabut, di barat Sumatera, terdengar panggilan primata yang unik ke tajuk pepohonan. Enam spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di Bumi, Siamang Kerdil atau Bilou (Hylobates klossii), Simakobu (Simias concolor), dua spesies lutung (Presbytis potenziani dan P. siberu), dan dua spesies beruk (Macaca pagensis dan M. siberu) telah menjadikan kepulauan ini sebagai satu-satunya rumah mereka selama ribuan tahun. Saat ini, kehidupan mereka semakin rentan dan rapuh. Primata-primata ini berada di persimpangan kritis, terjepit antara hutan yang menghilang dan tekanan perburuan yang meningkat, kelangsungan hidup mereka bisa jadi takkan lama.
Kisah primata Mentawai mencerminkan narasi yang lebih luas tentang hubungan antara hutan, satwa liar, dan komunitas manusia. Memahami nasib mereka memerlukan pandangan yang melampaui sekadar metrik konservasi untuk memeriksa jalinan rumit kekuatan ekologis, budaya, dan ekonomi yang membentuk nasib mereka.
Hutan Mentawai yang Terus Menyusut
Kepulauan Mentawai, yang terdiri dari empat pulau utama; Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, menyimpan hutan yang telah berevolusi dalam isolasi relatif. Isolasi ini menghasilkan enam spesies primata endemik, masing-masing beradaptasi dengan ceruk ekologis tertentu dalam ekosistem hutan. Spesies-spesies ini berkisar dari Bilou yang arboreal, dengan nyanyiannya indah bergema melalui kanopi menjelang fajar, hingga beruk Mentawai yang terestrial, dengan kelompok sosialnya menavigasi lantai hutan.
Data pemantauan hutan mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan. Antara tahun 2001 dan 2024, Kepulauan Mentawai kehilangan sekitar 32.000 hektare tutupan pohon, lima persen dari hutan yang ada pada pergantian milenium. Kehilangan ini melepaskan sekitar 20 juta ton setara karbon dioksida ke atmosfer. Meskipun beberapa area tetap relatif utuh, terutama di dalam Taman Nasional Siberut, pulau-pulau lain menghadapi fragmentasi parah.
Fragmentasi hutan menciptakan tambalan yang terisolasi, dipisahkan oleh lahan yang dibuka. Bagi primata, fragmen-fragmen ini menjadi pulau-pulau di dalam pulau. Kelompok-kelompok terpisah, tidak dapat berbaur atau menemukan wilayah baru. Ketika satu fragmen mengalami perburuan berat atau bencana alam, populasi yang terisolasi dapat menghilang sepenuhnya, tanpa kemungkinan rekolonisasi dari area tetangga. Pola ini menjadi sangat menonjol di Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, di mana penebangan dan perluasan pertanian telah mengukir hutan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan terputus.
Di Sipora, laporan tahun 2022, menggambarkan bagaimana empat spesies primata endemik di pulau itu, Bokkoi, Joja, Bilou, dan Simakobu, semakin terjepit oleh kehilangan habitat. Upaya menjadikan sebagian kawasan sebagai area konservasi formal terbentur prosedur administratif yang harus diusulkan bertingkat, sementara ancaman kepunahan terus berjalan.
Perburuan: Dari Aturan Adat ke Ancaman Baru
Selama beberapa generasi, masyarakat Mentawai mempraktikkan perburuan yang diatur dalam sistem kepercayaan tradisional mereka, Arat Sabulungan. Sistem ini mengakui primata dan hewan hutan lainnya sebagai bagian integral dari ekologi spiritual yang menghubungkan manusia, leluhur, dan alam. Perburuan terjadi sesuai dengan aturan tertentu: spesies tertentu, Bilou, tetap dilindungi oleh pantangan, sementara lima lain hanya dapat diambil selama waktu yang ditentukan dan dalam jumlah terbatas. Masyarakat secara tradisional menggunakan busur dan anak panah yang dilumuri racun tradisional omai, cara ini membatasi jumlah hewan yang dapat diambil.
Meski masih menggunakan racun omai, pengenalan senapan angin dan peluru timah mengubah kebiasaan ini. Penelitian dari Pulau Siberut memperkirakan bahwa antara 4.860 dan 9.720 individu primata diburu setiap tahun pada pertengahan tahun 2010-an; mewakili enam hingga dua puluh dua persen dari populasi primata lokal setiap tahun. Untuk hewan yang bereproduksi lambat, dengan periode kehamilan yang panjang dan perawatan orang tua yang diperpanjang, tingkat panen seperti itu melebihi apa yang dapat ditopang oleh populasi. Bahkan jika hutan tetap berdiri, jumlah primata menurun ketika perburuan menghilangkan individu lebih cepat daripada reproduksi dapat menggantinya.
Studi antropologis mendokumentasikan pergeseran dalam cara generasi muda berhubungan dengan praktik dan kepercayaan tradisional. Ketika koneksi dengan kerangka spiritual leluhur melemah dan tekanan ekonomi modern meningkat, mekanisme budaya yang dulu mengatur intensitas perburuan menjadi kurang konsisten. Ini tidak mencerminkan kegagalan moral tetapi dinamika kompleks yang terjadi ketika komunitas menavigasi antara cara hidup tradisional dan realitas ekonomi kontemporer.
Status Populasi: Terdorong ke Tepi Jurang
Penilaian International Union for Conservation Nature (IUCN) mengklasifikasikan semua enam primata endemik Mentawai sebagai terancam dan kritis punah. Daftar lainnya, "The World's 25 Most Endangered Primates Species 2023–2025" memasukkan seluruh primata Mentawai sebagai kelompok yang menghadapi risiko kepunahan kritis yang tinggi, sebagai sebuah dampak gabungan dari kehilangan habitat dan tekanan perburuan.
Survei lapangan di kepulauan Mentawai bagian selatan mengkonfirmasi bahwa populasi Bilou, Atapaipai, Siteut, dan Simakobu bertahan di hutan yang terganggu dan relatif utuh, tetapi dengan kepadatan yang menurun. Di banyak lokasi, primata sekarang hanya terjadi di fragmen hutan yang tetap sulit diakses atau yang mendapat manfaat dari perlindungan lokal sosial atau adat. Sayangnya dalam menghadapi situasi yang genting, namun belum ada tindakan konservasi konkret yang muncul untuk memindahkan spesies ini dari daftar kepunahan.
Status konservasi ini mewakili lebih dari sekadar kategori birokratis. Mereka menandakan bahwa tingkat kehilangan individu di alam liar mendekati atau melebihi kapasitas populasi untuk dapat dipulihkan secara alami. Untuk primata dengan siklus reproduksi yang panjang, kehilangan sejumlah kecil individu dewasa yang berkembang biak setiap tahun dapat menggeser populasi menuju penurunan jangka panjang.
Hilangnya Primata Mengguncang Ekosistem
Primata Mentawai bukan hanya “penghuni” hutan, mereka adalah bagian dari mesin ekologis yang menjaga hutan tetap berfungsi. Sebagai konsumen buah-buahan, biji-bijian, daun, dan serangga, mereka berpartisipasi dalam siklus nutrisi, penyebaran biji, dan dinamika vegetasi. Ketika populasi primata menurun, beberapa proses ekologis melemah. Biji yang bergantung pada penyebaran primata mungkin gagal mencapai lokasi perkecambahan yang cocok. Spesies pohon yang bergantung pada hewan-hewan ini sebagai penyebar biji utama mungkin secara bertahap menghilang dari area di mana primata menjadi langka.
Dengan kehadiran primata, hutan mempertahankan struktur kanopi yang kompleks dan komposisi pohon yang bervariasi. Keragaman struktural ini berkontribusi pada kapasitas hutan untuk mencegah curah hujan, mengurangi erosi tanah, dan mengatur aliran air. Ketika struktur hutan terdegradasi, baik dari penebangan langsung atau dari kehilangan penyebar biji, lereng bukit menjadi lebih rentan terhadap tanah longsor selama hujan lebat, sungai membawa lebih banyak sedimen, dan pola aliran air menjadi kurang dapat diprediksi.
Perubahan ini mempengaruhi komunitas lokal secara langsung. Petani yang bekerja di kebun lereng bukit melihat peningkatan risiko erosi. Sumber air yang pernah jernih menjadi keruh setelah badai. Ritme musiman ketersediaan air, penting untuk perencanaan pertanian, menjadi kurang dapat diandalkan. Dengan cara ini, penurunan primata terhubung dengan realitas harian keamanan pangan, akses air, dan stabilitas tanah.
Masyarakat Adat di Garis Depan
Di dalam komunitas Mentawai, masyarakat telah mulai mengorganisir respons konservasi yang berakar pada tradisi lokal. Organisasi seperti Malinggai Uma Tradisional Mentawai bekerja untuk melindungi primata melalui pendekatan yang menghormati kepercayaan dan praktik adat. Kelompok-kelompok ini berkolaborasi dengan desa untuk memantau populasi primata, menghidupkan kembali peraturan berburu tradisional, dan mendidik generasi muda melalui sekolah-sekolah di Mentawai.
Daripada melarang perburuan sepenuhnya, inisiatif ini berusaha memulihkan prinsip-prinsip tradisional: berburu dengan senjata tradisional daripada senjata api modern, berburu secara selektif dan ritual daripada oportunistik, dan menghormati larangan spiritual terhadap pengambilan spesies tertentu. Dengan dukungan mitra nasional dan internasional, mereka mengembangkan kawasan lindung adat dan merencanakan pusat rehabilitasi primata, sambil merangkul para pemburu sebagai penjaga hutan dan pendidik.
Upaya-upaya ini mengakui bahwa banyak orang yang paling berpengetahuan tentang perilaku primata dan ekologi hutan adalah para pemburu itu sendiri. Dengan melibatkan pemburu sebagai penjaga hutan dan pendidik daripada sebagai lawan, program-program ini bekerja dengan struktur komunitas yang ada daripada melawannya.
Kajian antropologis menunjukkan bahwa seni ukir, nyanyian, dan ritual Sikerei (dukun adat) banyak menggambarkan primata dan burung hutan sebagai representasi hubungan manusia, roh leluhur, dan alam. Dalam kerangka Arat Sabulungan, menjaga kelestarian satwa berarti menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia roh, pendekatan ini mengakui koneksi budaya yang dalam antara orang Mentawai dan lingkungan hutan mereka, alih-alih memandangnya sebagai “proyek pelestarian lingkungan”.
Masa Depan: Dari Data ke Tindakan
Data tentang hilangnya hutan, status terancam, dan tekanan perburuan memberi gambaran bahwa primata Mentawai berada dalam situasi genting. Namun data juga menunjukkan bahwa di tempat-tempat di mana adat masih kuat dan inisiatif lokal berjalan, ada ruang untuk harapan. Kolaborasi antara komunitas adat, peneliti, lembaga konservasi, dan pemerintah menjadi kunci untuk mengubah arah dari penurunan menuju pemulihan.
Memperluas perlindungan efektif untuk hutan yang tersisa, terutama di Sipora dan kepulauan Pagai di mana fragmentasi telah paling maju, merupakan prioritas segera. Perlindungan ini dapat mengambil berbagai bentuk, cagar atau suaka alam, hutan adat atau desa, mungkin juga jenis area yang dilestarikan masyarakat, tetapi harus diterjemahkan menjadi pengurangan aktual penebangan dan konversi lahan.
Mendukung program pemantauan berbasis masyarakat dapat memberikan data berkelanjutan tentang populasi primata sambil membangun kapasitas lokal dan memberikan insentif ekonomi untuk konservasi. Ketika anggota masyarakat berpartisipasi dalam survei satwa liar yang sistematis, mereka menghasilkan pengetahuan yang dapat menginformasikan keputusan manajemen sambil mengembangkan keterampilan dan menerima pengakuan atas keahlian mereka.
Mengintegrasikan pemahaman ilmiah dengan pengetahuan adat menawarkan potensi untuk strategi konservasi yang lebih efektif. Pengetahuan ekologi tradisional mencakup pengamatan terperinci tentang perilaku primata, pola musiman, dan persyaratan habitat—informasi yang melengkapi penelitian ilmiah. Memperkuat larangan tradisional dan peraturan berburu, yang berakar pada kepercayaan adat, mungkin terbukti lebih berkelanjutan daripada pembatasan yang dikenakan dari luar.
Mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang dikelola dengan hati-hati dapat menghasilkan nilai ekonomi dari primata yang hidup sambil mendanai kegiatan konservasi. Program semacam itu memerlukan batas kunjungan yang ketat dan protokol untuk meminimalkan gangguan, bersama dengan pengaturan pembagian manfaat yang adil yang mendukung masyarakat lokal.
Jalinan Hubungan yang Layak Dilestarikan
Nasib enam spesies primata endemik Mentawai melampaui pertanyaan tentang hilangnya keanekaragaman hayati, meskipun kekhawatiran itu tetap valid dan mendesak. Hewan-hewan ini mewakili benang hidup dalam permadani yang lebih besar yang mencakup kesehatan hutan, siklus air, stabilitas tanah, identitas budaya, dan kesejahteraan masyarakat. Ketika Bilou memanggil saat fajar, ketika kawanan lutung bergerak melalui kanopi, ketika beruk mencari makan di lantai hutan, mereka menandakan bahwa sistem ekologis dan sosial yang kompleks terus berfungsi.
Lintasan saat ini menunjukkan bahwa sinyal-sinyal ini mungkin terdiam dalam beberapa dekade jika tren saat ini berlanjut. Namun kehadiran komunitas lokal yang terlibat, pemahaman ilmiah yang berkembang, dan inisiatif konservasi yang muncul menunjukkan bahwa masa depan alternatif tetap mungkin. Melindungi primata Mentawai berarti melindungi hutan yang membersihkan air, menstabilkan lereng, dan menyimpan karbon. Itu berarti menghormati sistem pengetahuan adat yang telah mempertahankan hubungan manusia-hutan selama berabad-abad. Itu berarti mempertahankan opsi bagi komunitas untuk mengejar jalur pembangunan yang selaras dengan nilai-nilai mereka dan realitas lingkungan.
Jendela untuk tindakan efektif tetap terbuka, tetapi menyempit dengan setiap hektare hutan yang dikonversi dan setiap populasi primata yang berkurang. Apa yang terjadi di Kepulauan Mentawai selama tahun-tahun mendatang akan menentukan apakah spesies unik ini bertahan atau menghilang, apakah hutan terus memberikan layanan penting, dan apakah generasi mendatang akan mewarisi lanskap di mana komunitas manusia dan ekosistem hutan berkembang bersama. Pilihan yang dibuat sekarang—oleh komunitas lokal, organisasi konservasi, lembaga pemerintah, dan masyarakat internasional yang lebih luas—akan membentuk hasil itu. Primata Mentawai menunggu di fragmen hutan mereka, masa depan mereka bergantung pada keseimbangan.
Daftar bacaan
Yanuar, A., & Supriatna, J. (2018). The status of primates in the Southern Mentawai Islands, Indonesia. Primate Conservation, 32(1).
Mittermeier, R. A., Reuter, K. E., Rylands, A. B., Ang, A., Jerusalinsky, L., Nash, S. D., Schwitzer, C., Ratsimbazafy, J., & Humle, T. (Eds.). (2024). Primates in peril: The world’s 25 most endangered primates 2023–2025. IUCN SSC Primate Specialist Group; International Primatological Society; Re:wild.
Tulius, J., & Burman-Hall, L. (2022). Primates and birds of sabulungan: Roles of animals in sculptures, shamanic songs and dances, and the belief system of traditional Mentawaians. Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, 23(2), 451–490. https://doi.org/10.17510/wacana.v23i2.1090
Global Forest Watch. (2024). Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia Deforestation Rates & Statistics - Tree Cover Lost. globalforestwatch.org. [dikutip 2026-01-31]
Global Forest Watch. (2024). Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia Deforestation Rates & Statistics - Summary. globalforestwatch.org. [dikutip 2026-01-31]
Global Forest Watch. (2024). Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia Deforestation Rates & Statistics - Forest Lost. globalforestwatch.org. [dikutip 2026-01-31]
Febriyanti. (2022-07-29). Mentawai Endemic Primates on Sipora Island Threatened with Habitat Loss (bahasa Indonesia). rainforestjournalismfund.org. [dikutip 2026-01-31]
Bermúdez A.N. (2025-05-15). Indigenous conservationists lead the fight to save Mentawai’s endangered primates. Mongabay News. [dikutip 2026-01-31].
Erwin E, Irwandi A, Ermayanti E, Indrizal E. (2024). Budaya dan Modernisasi: Pergulatan Orang Mentawai Dalam Memperkuat Identitas Budaya. UMBARA: Jurnal Antropologi Budaya, 9(1):15-30. doi: 10.24198/umbara.v9i1.54420.
Tresno T. (2017). Ute’ Simagere (Tengkorak bagi Roh): Hubungan Masyarakat dengan Primata Endemik di Mentawai. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya 19(1):67-87. doi: 10.25077/jantro.v19.n1.p67-87.2017
Chania I, Hidayat M. (2024). Preserving Primate Paradises: Innovative Communication Risk Strategies For Deforestation Prevention In The Enchanting Mentawai Islands, Indonesia. Jurnal Ekonomi, 13(01):2168-2181.
Akhtar E (2024-01-23). Climate Connections - Throwing a lifeline to Mentawai's coral reefs [Podcast]. Singapore: Money FM 89.3; [dikutip 2026-01-31]. Tersedia dari: omny.fm
Waltert M, Abegg C, Ziegler T, Hadi S, Priata D, Hodges K. (2008). Abundance and community structure of Mentawai primates in the Peleonan forest, north Siberut, Indonesia. Oryx, 42(3):375-379. doi:10.1017/S0030605308000793



Comments